Minggu, 16 Oktober 2011

Lonely


 Hari ini pembagian raport di sekolah.Semua murid datang bersama orang tua atau walinya. Namun ada yang berbeda dengan Zaskia. Ia terlihat sendiri di depan kelasnya.Sepertinya ia sedang menunggu seseorang yang datang. Beberapa kali ia tampak berusaha menelpon seseorang. Matanya kosong menatap ke arah pintu gerbang. Hingga pembagian raport selesai ia tetap berada di tempat itu. Ia memegang raport hasil belajar didadanya. Teman-teman Zaskia mengucapkan selamat kepada Zaskia karena ia mendapatkan peringkat  1 di kelasnya.Termasuk Epin dan  Anissa mereka turut mengucapkan selamat kepada Zaskia. Walaupun mendapatkan juara kelas Zaskia kelihatan murung. Ternyata sedari tadi ia menunggu kedatangan ayahnya. Namun ayahnya tak kunjung tiba.Padahal tadi pagi ia sudah memberitahu ayahnya supaya hadir ke sekolah. Ia merasa sedih namun ia tidak ingin marah kepada ayahnya. Ia memutuskan untuk pulang kerumah.Tak ia sadari air matanya keluar saat membuka raport tersebut  sambil ia mengatakan “Ini semua untuk ayah”.
Liburan pun tiba,hari ini Epin dan Anissa mengajak Kia untuk  nonton di bioskop. Epin dan Anissa membawa pacarnya yaitu Rico dan Adam. Setelah mereka selesai menonton film mereka memutuskan untuk makan karena perut sudah mulai keroncongan.
“Kia kamu mau makan apa?” tanya Anissa.
Namun Kia seperti sedang melamun hingga pertanyaan dari temannya tak ia jawab.
“Hei, kamu mau makan apa?
Setelah dua kali bertanya barulah kia memberitahu makanan pesanannya. Ia memang sedang jalan dengan teman-temannya. Namun hatinya masih sedih memikirkan kemarin mengapa ayahnya tak sempat datang. Tapi ia berusaha menunjukan perasaan senang kepada teman-temannya karena ia merasa tidak enak.  Besok Epin dan Anissa akan berlibur bersama keluarganya masing-masing. Namun tidak bagi Kia, ia memang mengaharapkan bisa berlibur bersama ayahnya. Tapi itu semua hanya harapan belaka, ia tau ayahnya pasti sibuk tak ada waktu.
            Seminggu kemudian sekolah pun dimulai. Kia dipanggil gurunya ke ruang guru. Kia ditunjuk untuk mewakili sekolahnya untuk mengikuti olimpiade Astronomi bulan depan. Akhirnya setiap dua minggu sekali ia belajar Astronomi bersama Pak Andri. Namun ia merasa jenuh ia memutuskan untuk mengajak Epin dan Anissa menonton DVD dirumahnya esok hari.
“Epin,Nissa besok kalian bisa tidak kerumahku kita nonton film terbaru?”
“Yaah maaf Ki,aku sama Nissa mau double date besok gak apa-apa kan?
“Oh gitu, iya gak apa-apa kok lain kali aja”.
Walaupun kecewa ia tetep saja tersenyum. Akhirnya seusai belajar Astronomi  Kia langsung bergegas pulang. Di rumah ia hanya berdua dengan pembantunya mba Linah karena ayahnya sibuk bekerja. Namun ia memiliki seekor kelinci yang ia beri nama Nuno.Kia sering bercerita kepada Nuno bahwa ia kesepian.
            Sabtu pagi ia memutuskan untuk pergi ke pasar hewan. Ia bermaksud untuk membeli kelinci satu ekor lagi. Ia tak ingin Nuno merasa kesepian seperti dirinya. Baginya cukup dia yang merasakan sendiri. Sesampainya dirumah ia langsung memasukan Chubi,kelinci barunya  ke kandang Nuno. Kia tampak bahagia ia tersenyum lega melihat kelincinya sudah tak kesepian lagi.
“Nah sekarang kamu Nuno udah gak kesepian lagi deh”.
Tak terasa sebulan berlalu begitu cepat. Hari ini Kia pergi ke Jakarta untuk mengikuti olimpiade Astronomi. Ia ditemani Pak Andri guru yang mengajarkannya Astronomi. Sebelum di mulai ia mengirimkan sms kepada ayah dan teman-temannya termasuk kak Ridho salah seorang kakak kelas Kia. Ia memohon doa agar semua dimudahkan. Ia mencoba meminta Epin,Anissa dan ayahnya untuk hadir jika ia memenangkan olimpiade ini. Lomba pun dimulai,tampak tegang raut wajah Kia. Namun ia berusaha keras menyelesaikan soal-soal tersebut dengan waktu yang telah disediakan selama 2 jam. Akhirnya bel tanda waktu habis berbunyi. Ia segera keluar ruangan untuk melakukan shalat dan makan siang. Setelah itu ia mengirimkan pesan lagi kepada Ayah,Epin dan Anissa agar hadir di tempat tersebut. Beberapa menit kemudian handphonenya bergetar. Ia membaca pesan dari Epin dan Anissa yang mengatakan tidak bisa hadir karena sedang berlatih tari. Kini yang ia harapkan hanya kedatangan ayahnya. Sepuluh menit lagi pengumuman pememang akan diumumkan. Ia berusaha menelpon ayahnya. Namun nomer ayahnya tidak bisa dihubungi. Hingga tiba waktu pengumuman pemenang. Kia merasa nervous. Saat pemenang juara satu ternyata nama Kia yang disebut. Ia pun maju kedepan untuk menerima tropi dan hadiah. Pak Andri mengucapkan selamat dan ia merasa sangat bangga kepada Kia. Tapi berulang kali Kia menoreh kekanan dan kekiri  berusaha untuk menemukan sosok ayah yang ia nantikan. Namun pada kenyataannya ia tidak ada di tempat itu. Selepas dari penerimaan hadiah Kia berlari menuju arah luar ia duduk di pojok gedung. Ia menangis meratapi tropi yang ia bawa.
“Kenapa sih semua gak pernah ada waktu buat Kia? Kia mau Ayah,Epin dan Anissa disini, Kia mau berbagi kebahagiaan bersama orang yang Kia sayang.”
Tak berapa lama sesorang menghampiri Kia dan menghapus air mata Kia. Ternyata kak Ridho datang ke tempat itu.
“Makasih yah ka udah dateng kesini”.
“Iya sama-sama udah dong kamu jangan nangis lagi kamu gak sendirian kok kan ada Kakak,mungkin ayah sama temen-temen kamu lagi sibuk jadi gak bisa kesini owiya ini buat kamu.”
Kia diberi boneka Elmo yang lucu oleh Kak Ridho sebagai hadiah atas kemenangannya.Mereka pun pulang kerumah. Tapi Kia merasa kepalanya sangat pusing. Hingga diperjalanan menuju rumah ia tertidur.
Memang saat Ibunya Kia masih ada keluarga Kia sangat hangat dan erat. Setiap weekend mereka sering jalan untuk dinner atau lainnya.Namun keadaan berubah ketika Ibu Kia meninggal. Ayah Kia seperti tidak betah dirumah. Ia selalu sibuk dengan bisnisnya. Mungkin Ayah Kia hanya ingin sedikit melupakan kesedihannya. Karena jika ia berada dirumah ia selalu teringat istri yang sangat perhatiian kepadanya. Entah apakah Ayah Kia tidak bisa menerima kepergian istrinya hingga kini ia menyibukan diri dengan pekerjaannya. Tapi Kia merasa maklum dan harus mengerti dengan keadaan. Hanya kini Ia merasa sangat kesepian.
Seminggu kemudian Kia bangun dari tempat tidurnya. Namun ia merasa kepalanya sangat pusing. Ia berusaha bangun tetapi sulit. Ia pun memaksa dengan berpegang ke dinding ia berjalan menuju ke kamar mandi. Ia berusaha untuk memenuhi janji  dengan Kak Ridho.Usai berpakaian rapih ia bergegas menuju tempat makan tempat ia akan bertemu dengan Kak ridho. Namun perutnya sangat mual tak lama ia muntah. Tapi ia bersikeras untuk memenuhi janjinya itu.
Sampai disana ia bertemu dengan Kak Ridho.
“Kia muka kamu pucet,kamu gak apa-apa?”
“Aku gak apa-apa kok Kak”.
Mereka berjalan menyusuri mall. Hari ini Kia ingin membeli kado untuk ayahnya karena seminggu lagi ayahnya akan berulang tahun. Ia sudah memilih dan membungkus sebuah jam tangan untuk ayahnya. Saat akan pulang Kia mengeluh kepalanya sakit dan  tiba-tiba Kia pingsan. Kak Ridho membawa Kia ke rumah sakit. Saat Kia sudah sadar, Dokter menyuruh Kia untuk datang kembali esok bersama orangtuanya untuk uji laboratorium. Kia meminta kak Ridho untuk  menyembunyikan hal ini dari siapapun.
            Esok hari Kia pergi ke rumah sakit menemui Dokter Surya. Namun karena ia tidak memberitahu ayahnya ia hanya datang seorang diri.
“Loh kok kamu datang sendirian,orangtuamu mana Kia?” Tanya dokter heran.
“Oh itu ayah lagi sibuk kerja dok “ jawabnya tegas.
Satu jam kemudian Kia sudah selesai di periksa. Ia menunggu hasil lab keluar.  Saat hasil lab keluar ia dinyatakan menderita kanker otak. Ia pun bingung harus bagaimana lalu ia menelpon kak Ridho. Tak lama kak Ridho datang. Kia tak menunjukan ekspresi sedih. Ia hanya meminta agar kak Ridho tak memberitahu siapa-siapa.
            Hari demi hari berlalu keadaan Kia tak kunjung membaik. Bahkan frekuensi ia pingsan malah bertambah sering.Walaupun ia rutin menjalani pengobatan tanpa sepengetahuan ayahnya ia  merasa tidak ada perubahan. Kemarin ia pingsan disekolah kak Ridho membawanya ke rumah sakit.Keadaannya sudah mulai parah, mungkin kanker sudah menjalar di seluruh kepalanya. Ia meminta kak Ridho untuk mengambilkan selembar kertas dan sebuah pena. Ia menulis sebuah surat dan ia meminta kak Ridho untuk menyampaikan kepada ayahnya. Seketika itu kak Ridho merasa sedih melihat orang yang ia cintai sedang berjuang melawan sakit. Setelah surat itu selesai di buat kak Ridho pergi untuk menemui ayah Kia. Kak Ridho menitipkan Kia kepada suster agar Kia dijaga dengan baik.
“Permisi bapak Yudha ada?”
“Ada di ruangannya silahkan masuk!” kata seoraang sekretaris di kantor ayahnya Kia.
“Permisi om saya datang kesini ingin menyampaikan surat ini”.
“Surat dari siapa ini?”.
“Sebaiknya om baca saja surat ini”

Untuk ayahku tercinta
Ayah,sebelumnya Kia mau minta maaf sama ayah. Kia baru memberitahu ayah sekarang. Soalnya Kia tau ayah sedang sibuk di kantor, Kia takut ganggu ayah kerja. Ayah ,Kia di vonis dokter menderita kanker otak. Kia bingung mau cerita sama siapa.Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Akhirnya Kia memutuskan untuk tidak memberi tau siapapun. Kia tak ingin orang terdekat Kia merasa sedih dan kasihan kepada Kia. Tapi ayah Kia selama ini merasa kesepian. Sejak ibu meninggal ayah seperti tidak betah dirumah. Kia mau kasih sayang ayah dipeluk ayah seperti dulu. Kia memang memiliki teman-teman. Tetapi ketahuilah ayah, hanya ayah yang Kia mau. Kia sayang sama ayah. Kia sendirian menghadapi ini semua. Kia merasa terabaikan oleh ayah. Kia kesepian, ayah, Tapi Kia Cuma ingin mengucapkan’Selamat Ulang Tahun ayah’...
From your daughter
Zaskia

Setelah membaca surat itu. Ayah Kia langsung berlari menuju mobilnya dengan bercucuran air mata. Seketika ia langsung menuju rumah sakit tempat Kia dirawat.
Sesampainya di rumah sakit ia berlari sekuat tenaga . Namun ia berhenti setelah mebuka kamar tempat putrinya dirawat. Dilihat seorang gadis yang sudah terbujur kaku. Namun gadis itu masih memegang sebuah liontin dan sebuah kotak kado untuk ayahnya.
“Kia bangun sayang, ini ayah Kia, Kia mau dipeluk kan sama ayah , bangun sayang bangun”
“Maafin ayah Kia, ayah selama ini egois hanya memikirkan perasaan ayah yang tidak bisa menerima kepergian ibumua, ayah gak memikirkan keadaan kamu dan perasaan kam, Maafin ayah sayang....
Namun tangisan itu tak akan bisa membuat Kia kembali.

Minggu, 14 Agustus 2011

Seminar IPTEK di PUSPITEK Serpong



Well bermula pada hari Selasa pagi.....
“Tok..tok..tok... Assalamualaikum “, Pak Sardi datang
“Walaikumsalam” semua menjawab.
Hmm disini ada yang  jago kumputer gak? Bapak lagi butuh  empat siswa dan empat siswi untuk seminar IPTEK di Puspitek, Serpong. Kelas ips empat sudah ada Imam Nabil. Saat itu aku tertarik Cuma aku gak berani ngomong. Saat teman-teman meneriaki namaku aku hanya diam saja tertunduk.
Bel istirahat pun berbunyi lalu aku mengumpulkan tugas geografi bersama Nurul, salah satu teman sekelasku. Lalu Amel datang kekelas dan berbicara denganku.
“Eh Anis, aku ikut seminar itu tau bareng Diana”.
“Masa sih? Aku juga mau ah” kataku semangat
“Tapi gak tau masih ada apa udah penuh , yauda kita ke Pak Sardi aja dikantor”. Amel memberi solusi.
Sampailah aku dan Amel dikantor ditemani Nurul pula. Lama ku cari guruku yang satu ini dan akhirnya kami bertemu.
“Pak yang mau seminar itu masih kosong  gak aku mau ikutan?”
“Maaf nak, udah penuh nanti Anis mah ke Bandung aja yah”.
“Yauda gak apa-apa kok Pak, Amin makasih Pak”.
“Iyah sama-sama”.
Aku,Nurul dan Amel melanjutkan pergi ke masjid.
Hari itu hari Jumat aku belajar seperti biasa. Setelah persentasi Ekonomi aku belajar Sosiologi dan pada saat pelajaran sejarah Amel bergegas untuk berangkat seminar itu. Beberapa lama kemudian Amel mengetok pintu...
“Tok..tok..tok Assalamualaikum pak permisi, Anis kamu mau ikut seminar gak?”.
“Aaaa..aku? emang masih bisa?”.
“Iyah kata Pak Sardi masih ada”.
“Tapi aku pake baju koko engga seragam sama kalian”.
“Udah gak apa-apa”.
Dari jauh aku lihat Pak Sardi dan yang lainnya sedang menungguku dan Amel.
“Pak aku gak apa-apa ini pake baju beda sendiri?”.
“Udah gak apa-apa anggep aja kamu ketuanya hahahahhahaa”. Semua tertawa lepas .Akhirnya Imam,Terry,Ramy,Dany,Amel,Diana,Ratna,Ami dan aku memasuki mobil sekolah. Perjalanan pun dimulai dengan membaca basmallah.Disepanjang jalan kami habiskan dengan bercerita sambil bercanda bersama. Karena hari Jumat maka anak laki-laki harus melaksanakan Sholat Jum’at dan kami pun menunggu. Setelah mereka selesai sekarang waktunya Role soalnya giliran kami anak perempuan yang melaksanakan Sholat. Setelah selesai..
“Lama banget kalian sholatnya ampe tigapuluh menit”. Anak laki-laki mulai rewel.
“Maaf namanya juga cewe hahaaha”.
                                Perjalanan dilanjutkan hingga kita sampai di gedung Puspitek pukul 13.20. Kami langsung  berphoto dengan Dany sebagai photographer soalnya cuma Dany yang bawa kamera. Oke 1....2.....3..... cheeers. Lalu kami melihat berbagai pameran teknologi dari berbagai provinsi. Ada alat pendeteksi  tsunami dari Aceh dan lain-lain.
                Tak lama kami melihat mobil mirip ferrari tapi gak pake bensin wah pokoknya keren banget deh. Mobil itu layaknya artis aja banyak yang photo termasuk kami juga deh ikutan photo hahaha.
Setelah itu kami lekas memasuki ruangan seminar. Saat masuk ternyata acara sudah mulai dan sudah ramai. Owiya saat mendaftar kami mendapat souvenir loh ada buku,CD yah bersyukur aja deh. Lanjut yaaa... seminarnya itu berbentuk TALK SHOW “Ngabuburit sambil Berkreasi di Dunia Iptek -à MEMBEDAH KONTEN INTERNET&MEDIA MASYARAKAT. Dalam seminar ini banyak banget motivasi bahkan orang yang tunanetra pun bisa jago internetan loh pake alat Screen Reader. Contohnya kak Ramaditia sama Kak Dimas. Kak Dimas itu mahasiswa semester 8 di UI jurusan sastra inggris, wahhh keren kan.Acara seminar pada hari itu lumayan seru loh, Ada pengumuman lomba, hiburan seperti tarian rebana dan lain-lain.Wah serunya hari itu cepat berlalu dan tak terasa kami pun harus pulang.
                Pas masuk mobil ternyata Pak Sardi sudah membelikan makanan untuk kami buka puasa, namun kolaknya tumpah semua karena kedudukan Diana yang gak sengaja numpahin.
“Aduh perkolekan bapak tumpah semua, ayooo amankan!”>
“Ayoooooooo (lebay)”.
 Dalam perjalanan seperti biasa candaan selalu keluar dari mulut kami. Yah lumayan sambil nunggu buka puasa. Saat adzan maghrib berkumandang kami berhenti diwarung es kelapa buat makan sama buka puasa tentunya. Dengan lahap kami habiskan makanan. Imam sedari tadi merayu Ami  biar bisa nebeng pulangnya hihihi lucunya. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang.  Diana turun duluan lalu sisanya turun disekolah.  Saat sampai disekolah dan akan menuju rumah aku dan Pak Sardi melihat Ami dan Imam.
“Akhirnya dapet juga tuh anak tumpangan”. Pak Sardi Tertawa hahahha...
Aku pun ikut tertawa kecil lalu aku pulang kerumah pukul 19.30 . Yahhh pengalaman yang seru.

Rabu, 03 Agustus 2011

Keajaiban Rumput Liar

Saat itu cuaca dingin sehabis hujan deras. Lantas aku bermain dengan teman-temanku. Melihat sekumpulan anak kecil kami pun mencoba mendekat. Kami menuju sebuah kali kecil ditengah sawah. Airnya sangat jernih dan banyak ikan-ikan kecil yang berwarna cantik. Waktu itu aku bermain bersama teman kecilku, aku sampai lupa siapa nama temanku  yang pergi bermain bersamaku dulu. Waktu itu umurku belum mencapai lima tahun.
“Nis ayo kita kesana”
“Ayoo siapa takut”
“Wah airnya jernih yah”  temanku berkata sambil mencelupkan sedikit kakinya ke kali kecil itu.
“Iyah, eh itu ada ikan kecil lucunya “ aku menjawab dengan senangnya.
Setelah itu kami menyusuri kali kecil itu. Kali itu sangat menarik perhatian kami. Selain airnya jernih, setiap beberapa meter  tanahnya turun sehingga terlihat seperti air terjun yang ketinggiannya dibawah limapuluh centimeter hahaha. (Namanya juga anak kecil). Dengan hadirnya ikan kecil itu kami semakin tertarik dengan kali kecil tersebut. Lalu kami bermain di salah satu air terjun mini tersebut.
“Eh Nis gimana kalo sandal kita jadiin perahu, anggep aja perahu kita lagi balap”.
“Ayoo hehehe”.
Lalu berulang  kami melakukan hal tersebut sampai suatu ketika..
“Eh eh sendalku gak mau gerak gimana yah nanti aku dimarahi mamah” kataku khawatir.
Lalu aku memutuskan untuk turun ke bawah  tempat air terjun mini tersebut. Tak disangka ternyata  tempat jatuhnya air itu adalah sebuah sumur kecil. Namun untuk ukuran anak lima tahun sumur itu terasa sangat dalam. Sampai aku tenggelam dan hanya rambutku yang terlihat dari atas.
Blubuk ....blubukkk....“Tolong..tolong”  Aku menjerit berharap seseorang temanku menolong.
Tapi kenyataannya temanku tak ada yang menolong. Entah karena mereka takut atau menganggap aku sedang bercanda. Aku terus mencari akal agar tidak tenggelam. Saat aku menarik beberapa rumput ternyata rumput itu selalu putus. Hingga kutemukan rumput liar yang kurasa rumput itu kuat. Kalian tau saat aku menarik rumput aku tidak melihat karena kepalaku pun ikut tenggelam. Aku hanya meraba-raba permukaan. Akhirnya aku naik ke permukaan dengan bantuan rumput liar. Aku merasa lega dan terharu. Aku pun menangis tersedu-sedu. Aku tak tau jadinya jika tidak ada rumput liar itu. Mungkin ini jalan Allah untuk menyelamatkanku dengan perantara beberapa rumput liar. Saat itu sangat terasa hal kecil yang selalu aku sepelekan ternyata sangat bermanfaat bahkan untuk nyawa sekalipun.