Minggu malam Asyahra kembali menuliskan sebuah cerpen. Dengan rintik hujan yang menemani ia mulai menuliskan kata demi kata. Gadis ceria dengan jilbab penghias kepalanya itu sangat suka menulis. Baginya menulis adalah sebuah kebutuhan yang tak terelakan. Dengan menulis hatinya menjadi lebih tenang. Malam ini ia menulis cerpen yang berjudul “Bayang”
Aku terbangun dalam tidur , pikirku ada apa dalam mimpiku. Lagi dan lagi berulang kembali bayangan itu hadir.Kemudian berpikirku dengan logika tapi tak kutemukan jawabannya . Hanya tanya yang teringgal “Mengapa ? “
Saat aku memilih sendiri bayangan itu ada dalam diriku menghampiriku begitu dekatnya seraya ia menyapa diriku yang sepi membangunkanku untuk mewujudkan semua mimpiku,Namun saat aku memilih untuk mendekat bayang itu malah menjauh .Melepaskan semua genggaman tangannya dariku. Entahlah aku pun tak tau mengapa, bahkan aku tak pernah mengenal sebelumnya.
Takutku bila aku mulai mengenal bayang itu kemudian bayang itu malah menjauh pergi. Tapi bila harus memilih lebihlah aku memilih untuk sama sekali tak mengenalnya asal bayang itu selalu ada. Karena bayang itu kini mulai mengisi kekosongan hatiku. Terimakasih telah hadir bayang .Tapi maaf tak bisa ku untuk menjadi apa yang lebih dari ini . Karena kita berbeda . Aku pun tak tau bayang apalah tujuanmu untuk ini. Dan karena aku punya beribu alasan untuk tidak melanjutkannya. Salah satunya karena aku begitu menyayangimu.Tapi sekali lagi kututup semua darimu. Aku takut bila ketakutanku menjadi nyata .Apalagi yang terjadi,biarlah menjadi rahasia untuk hari esok
Begitulah penggalan cerpen yang ia buat malam itu. Begitu cerpennya hampir selesai dibuat ia mulai menjemput mimpi dalam tidurnya.
“Hari ini begitu banyak kejutan,terimakasih ya Allah” begitu katanya saat ia berdoa sebelum tidur.
Pagi menjemput ,sinar fajar mulai terlihat. Asya bangun dari tidurnya ia sangat bersemangat untuk pergi kesekolah.
“Ma, aku pergi dulu ya Assalamualaikum” Asya pamit kepada ibunya.
“Waalaikumsalam sayang “
Kemudian diciumlah kening Asya oleh ibunya. Asya bergegas masuk mobil bersama ayahnya karena hari ini kemungkinan agak terlambat datang kesekolah.
“Tuh kan bener yah macet, aku pasti telat nih” Asya agak sebal dengan kondisi jalanan yang macet.
“Tenang Sya kan ada ayah, nanti ayah deh yang bilang sama guru kamu”
“Bener ya yah?”
Hatinya pun menjadi tenang. Sampai disekolah ternyata Asya tidak terlambat. Saat memasuki gerbang sekolah tepat bel berbunyi. Asya berlari menuju kelasnya.
“Assalamualaikum teman-teman” seperti biasa Asya menyapa teman-temannya saat ia baru datang.
“Sya gimana cerpen kamu udah jadi?” Tanya Rubi, sahabat Asya.
“Belum nih baru aja aku buat semalam nanti kalau udah jadi kamu orang pertama deh yang baca”
“Oke deh Sya”
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasanya Asya membawa bekal roti dan laptopnya ketaman belakang sekolah. Baginya itu tempat favorit disekolah.Ia sering duduk sendirian disana sambil menulis.Tiba-tiba handphonenya berbunyi memecahkan kosentrasinya. Namun saat Aysa hendak membuka pesan bel masuk berbunyi dan ia langsung kembali ke kelas.Karena lupa saat pulang sekolah barulah Asya membuka pesan itu ternyata yang mengirimkan sms adalah Kak Dirga seorang seniornya disekolah. Asya dan Dirga mulai berkenalan sejak lima bulan lalu. Mereka bertemu saat sekolah mengadakan seminar.
Sya, kakak punya hadiah buat kamu, nanti pulang sekolah kamu ke taman ya, ambil bungkusan berwarna biru
Asya langsung menuju taman, lalu ia temukan bungkusan itu dipegang oleh Annisa . Salah satu temannya disekolah.
“Eh Sya, ini ada bungkusan bertuliskan nama kamu”
“iya terimakasih ya, kok kamu bisa tau bungkusan ini?”
“Tadi aku melihat Kak Dirga menaruhnya”
“Oh begitu, ya sudah aku pulang duluan ya”
Asya bergegas pulang. Saat sampai dirumah ia membuka bungkusan itu. Ternyata berisi novel yang ia inginkan. Kemarin Asya mengupdate statusnya di jejaring sosial bahwa ia ingin novel tersebut. Asya pun langsung mengirimkan sms pada Kak Dirga
Makasih ya kak novelnya aku seneng banget J
Lalu beberapa menit kemudian Kak Dirga membalas.
Iya ade sama-sama ya :D
Hari demi hari berlalu. Semenjak kejadian itu Asya mulai dekat dengan Kak Dirga dan Annisa.
Annisa sering curhat tentang seseorang yang ia kagumi. Namun Ia tak memberitahu siapa namanya. Dan dengan Kak Dirga , Asya mulai dekat dan sering bersms ataupun sekedar chatting.
Malam itu Asya mendengarkan sebuah lagu Secondhand Serenade berjudul “your call”
I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
To make you mine, stay with me tonight
Asya mulai menyanyikan lagu itu didepan jendela kamarnya.Sambil melihat kearah langit yang penuh gemerlap bintang dan sinar bulan.
“Apa iya ini namanya jatuh cinta haha entahlah” Asya mulai berbicara pada dirinya sendiri.
Setelah satu bulan berlalu Kak Dirga mulai menyatakan perasaannya pada Asya. Namun Asya belum tahu harus mengungkapkan apa. Asya memang memiliki rasa yang sama namun Asya tidak ingin terburu-buru mengungkapkan perasaannya itu. Asya ragu karena Kak Dirga juga sedang dekat dengan Anissa dan Riyanti. Riyanti adalah senior seangkatan dengan Kak Dirga .Ia seorang photographer disekolah. Asya merasa takut jikalau Kak Dirga tidak serius dan hanya bercanda seperti biasanya. Sebisa mungkin Asya menutupi perasaannya itu dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan dengan Kak Dirga.
Suatu ketika saat Asya membuka situs jejaring sosial miliknya ia melihat Kak Dirga sedang mendekati Annisa melalui jejaring sosial tersebut. Asya mulai berfikir kembali dan lebih menutupi perasaannya tersebut.
“Apa iya mereka saling suka, sebenarnya aku ini salah atau engga sih Bi ?” tanyanya kepada Rubi saat ditaman sekolah.
“Kamu engga salah kok, wajar aja kamu suka sama orang” Jawabnya tenang.
Saat Asya sedang bercerita kepada Rubi, Kak Dirga lewat didepan Asya seraya ia tersenyum manis. Namun Asya hanya diam dan melihatnya tajam.
Sabtu pagi Asya memutuskan untuk pergi ke puncak sendirian. Mobil pun ia nyalakan dan ia meminta ijin kepada orangtuanya. Asya hanya membawa sahabat electronicnya yaitu laptop. Ia mematikan handphonenya karena ia perlu waktu untuk sendirian dan tak ingin diganggu oleh siapapun. Saat ia merenung ia memutuskan untuk mendengarkan lagu Secondhand Serenade - Pretend
Your eyes, telling me lies
And making me find myself
While you have your agenda, a life to pursue
So please,
Let me be free from you.
And please, let me be free
I can face the truth.
Esoknya ia bertemu dengan Annisa. Lalu Annisa menceritakan semuanya tentang seseorang yang ia kagumi. Dan seseorang itulah adalah Kak Dirga. Asya bingung dengan keadaan ini disatu sisi Kak Dirga juga dekat dengannya. Asya menjadi serba salah dengan keadaan ini.Annisa sendiri tidak tau bahwa Asya menyukai Kak Dirga.Karena Asya terlalu rapat menutup isi hatinya. Asya berfikir bahwa Annisa lebih pantas dengan Kak Dirga karena menurutnya Annisa adalah wanita yang baik,cantik,berjilbab dan pendiam. Ia kembali duduk ditaman . Asya memeluk Rubi, ia menceritakan semuanya hanya kepada Rubi.
“Maaf selama ini aku kurang peka sama kalian berdua, aku mundur kok terimakasih” katanya dalam hati.
Asya memilih untuk tidak berjajar dengan Kak Dirga dan Annisa. Asya memilih untuk mundur tiga langkah dibelakang Kak Dirga.Satu langkah yang menyatakan bahwa Asya tidak membutuhkannya. Langkah kedua menyatakan bahwa Asya tidak menginginkannya. Dan langkah ketiga yaitu bahwa Asya tidak mencintainya. Yang artinya Asya memilih untuk mundur menjaga jarak tapi selalu ada untuk Kak Dirga. Membiarkan rasa itu hilang dan Annisa yang bersamanya. Tak perlu Annisa dan Kak Dirga tau tentang perasaannya. Cukuplah hanya dirinya yang tau.
Untuk pertama kalinya ia menangis karena lelaki. Tapi hanya menjatuhkan dua tetes air mata. Ia mulai menghela nafas panjang dan kembali menulis cerpen. Kali ini cerpen yang ia tulis adalah kisahnya sendiri tentang semua ini. Ia hanya berkata dalam hati
“Biarlah Allah yang pilihkan untukku”